
Pikiran saya banyak travelling saat berkunjung ke Kelenteng Sam Po Kong. Sebagian orang kesini karena tempat wisata, sebagian berdoa, sebagian ngonten, dan mungkin ada yang sebagian seperti saya, merenung.
Entah kenapa hati saya agak teduh waktu di dalam. Lantainya baru dipel dan lilin belum dinyalakan. Daun-daun masih ada yang disapu penjaga kelenteng, ada juga warga yang berdoa pagi.
Saya sempat berfoto dan memegang beberapa patung depan Kelenteng. Udaranya sejuk dan syahdu, khas tempat orang berdoa. Saya melihat banyak sekali lampion dan lilin besar ditempel dengan nama keluarga, sebuah harapan yang diupayakan.
Di luar Kelenteng, dilapangan, hawanya panas dan matahari terasa menyengat. Tapi di aulanya teduh dan saya bisa menatap lagi ketiga Kelenteng tersebut. Saya kagum segitu besar jasa beberapa manusia membangun tempat ibadah itu. Saya juga kagum pada Laksamana Zheng He yang sebegitu besar jasanya bagi orang lokal sampai dibuat patung perunggu besar dan dihormati. Jasanya dan namanya sampai membuat orang berabad-abad setelah dia wafat pun tetap respect.
Saya merenung bagaiman seseorang dapat begitu menyentuh hati banyak orang dari kaum dan diluar kaumnya dan menanam kesan dan respect yang dalam, bahkan setelah jasadnya lebur ke bumi. Namanya bisa membuat kagum dari penjuru dunia yang dia darati. Dedikasi dan buah ketekunan luar biasa.
Dan dia seorang muslim. Keteguhannya dalam iman dan keikhlasannya pasti sudah level tinggi. Mengarungi lautan dan bekerja, sekaligus memegang dan yakin dengan takdir Allah, itu tidak mudah.
Ikhlas dan tauhidnya mungkin sudah level tinggi, belum lagi mungkin hapalan Qur’an dan hadits-nya. Padahal sebagai Laksamana, dia punya power tinggi untuk melakukan hal zolim misalnya, tapi dia mengetuk hati banyak orang dengan wibawa.
Lalu saya membandingkan dengan diri saya. Saya bukanlah pemimpin. Saya tidak mendapatkan ketenangan yang saya harap dimanapun. Saya tidak menemukan arti ikhlas dan tauhid setinggi itu. Saya baru ditusuk dari belakang oleh orang kepercayaan saya, saya merasa kehilangan pegangan, bahkan rasanya bercerita pun salah.
Ketika saya meraba patung dan ukiran Kelenteng, saya berucap dalam hati, bagaimana saya bisa seikhlas ini sehingga ukiran itu terasa indah untuk mata yang melihat? Saya menatap bangunan tiang Kelenteng, yang merah besar itu, saya berpikir bagaimana orang bisa berpikir tekun mendirikan bangunan yang kuat ratusan tahun. Sementara orang yang melihat tiang besar merah itu suatu saat hanya jadi debu dan dilupakan.
Lalu saya melihat begitu banyak lampion digantung, merah menyala dan di bawahnya ada tulisan nama keluarga, tempat harapan tergantung. Saya merasa saya sudah tidak boleh berharap, saya mengucapkan doa kecil saja dihati saya, untuk Tuhan. Itu pun dengan diiringi kesedihan.
Saya melihat pendeta membakar lilin besar dan ada nama keluarga dililin itu, mungkin agar keluarganya diberi cahaya dan jalan yang terang. Seolah cahaya itu benar-benar bisa bersinar kuat menembus hati. Tapi saya tidak melihat saya bisa menyalankan lilin yang sama di hati saya.
Saat merenung di aula menghadap langsung ke Kelenteng, saya berpikir betapa kecilnya saya. Saya bukan pemimpin, saya dikhianati, saya dihina, dan mungkin kalau saya mati, tidak ada yang memberi hormat sebesar ini.
Saat itu saya kecewa dengan diri saya, sudah separuh hidup rasanya sudah lelah buat saya dan pukulan berlanjut terus tahun ini. Sepositif apapun saya berusaha bangkit rasanya tetap tidak terasa.
Apa saya bisa menemukan cahaya seterang lilin yang dinyalakan di Kelenteng itu? Atau saya bisa berharap setinggi lampion merah? Atau jati saya bisa setenang dan sesyahdu di aula? Saya tidak tahu. Manusia memang bukan sesuatu yang bisa dipegang. Banyak sekali yang sekejap mengancurkan dan menyakiti. Bangunan yang kuat ratusan tahun itu mungkin juga jadi saksi, tapi dia kuat tidak seperti hati dan pikiran manusia.
Leave a comment