[5] Rumah Mba Ning Part 1

Jauh dari tetangga

Rumah itu bukan rumah orang kaya atau rumah dengan tanah yang luas, tapi memang sekitar rumah itu hanya ada satu dua rumah saja. Lokasi perfect buat introvert. Rumahnya sendiri seperti type 36, kamar 2, toilet 1, ruang tamu, dapur dan sedikit halaman depan. Rumah itu hanya dipagar bambu. Rumah itu juga tidak ada kesan seram, walau sudah tidak ada yang tinggal di sana selama 5 tahun.

Didepan rumah itu ada pohon jambu merah yang lumayan subur. Sisanya hanya tanaman-tanaman hias. Rumput yang ditanam juga terlihat pendek dan tidak ada ilalang. Ada tanaman daun sirih merambat disekitar pagarnya.

Seminggu sekali ada 1 orang kampung daerah situ yang membersihkan rumah, dari dalam rumah dan luar rumah, namanya Pak Karman. Sebulan sekali dia membawa saudara-saudaranya untuk membantunya membersihkan rumah itu, atau sekedar memanen jambu merah. Terkadang dia juga menginap di situ dengan beberapa warga.

Mba Ning

Pemilik rumah kosong itu namanya Mba Ning. Dia membeli rumah itu sejak 5 tahun yang lalu dan nampaknya tidak berusaha dijual atau dikontrakan. Awalnya warga di situ mengira, rumah itu akan ditinggali, namun sampai saat ini, rumah itu dibiarkan kosong saja. Banyak gosip tidak sedap tentang rumah itu, ada yang menebak rumah itu masih sengketa, atau sebagai jaminan bank, sampai ada yang bilang rumah itu untuk jin peliharaan Mba Ning.

Mba Ning sendiri tidak pernah memberitahu alasan dia tidak tinggal di situ. Dia tinggal sendiri di kota lain, menempati rumah neneknya. Warga hanya sesekali melihat Mba Ning ke Pak RT atau ke rumah Pak Karman untuk silaturahmi saja. Pak Karman juga tahu Mba Ning sejak Pak RT memintanya membersihkan rumahnya seminggu sekali.

Menurut Pak Karman, Mba Ning orangnya biasa saja, dan terkesan pendiam. Tapi soal pembayaran untuk membersihkan rumah, Mba Ning tidak pelit. Kadang dia suka menitipkan uang lebihan untuk anak Pak Karman yang masih sekolah. Mba Ning cuma pesan untuk selalu merawat rumah itu seolah-olah memang ada yang menghuni rumah itu. Pak Karman juga merasa Mba Ning orangnya sedikit tertutup, dia whatsapp kalau ada keperluan rumah saja dengan Pak Karman, tidak pernah membahas hal lain. Kalau Pak Karman basa-basi, hanya ditanggapi sekilas saja oleh Mba Ning.

Rumah setan

Kita sering dengar, kalau rumah yang tidak ditinggali manusia, selama beberapa tahun, bisa dihuni makhluk lain seperti jin dan binatang seperti tikus, kecoa, cacing, cecak, dan ular. Hal ini pernah disampaikan oleh Pak Karman ke Mba Ning, lebih baik kalau tidak mau dikontrakkan, dijual saja. Mungkin saja ada yang mau membeli. Tapi Mba Ning selalu bilang, dia tidak mau menjual dan mengontrakkan rumah itu.

Sejujurnya, warga di situ sering melihat penampakan di dalam rumah itu, seperti bayang hitam besar, perempuan berbaju putih dekat pohon jambu merah, anak kecil, sekumpulan singa, bahkan ada yang pernah melihat ular besar melilit rumah itu sampai ke atapnya. Tapi selama ini, Pak Karman tidak pernah melihat itu selama dia membersihkan rumah. Mungkin karena memang banyak yang harus dibersihkan, jadi Pak Karman lebih memilih tidak menghiraukan.

Segerombolan anak kecil yang sering lewat depan rumah itu bilang kalau rumah itu adalah rumah setan, karena mereka merasa selalu diawasi setiap melewatinya. Ada banyak bentuk menyeramkan yang pernah mereka lihat kalau lewat didepannya. Jadilah semakin kesini, rumah Mba Ning, menjadi salah satu urban legend horror didaerah itu. Para warga yang lewat di situ kadang merasa merinding juga, apalagi kalau lewat dari isya, mereka tidak berani lewat depan rumah itu. Tapi sekali lagi, Pak Karman tidak merasakan hal mistis di rumah itu. Kalau dia menginap pun, tidak ada terasa seram, malah terasa adem dan tenteram.

Pesan aneh Mba Ning

Suatu minggu, saat Pak Karman sedang menyapu daun kering dihalaman rumah Mba Ning, hp disaku celananya berdering. Telpon dari Mba Ning. Ketika diangkat, suaranya terdengar terburu-buru dengan background suara kendaraan.

“Halo, Pak, siang Pak!”

“Ya, Mba? Siang Mba. Ada apa Mba?”

“Pak, nanti kalau ada orang yang mirip saya kesitu, kasih kuncinya ya.”

“Oke Mba. Siap. Saudara Mba mau kesini?”

“Bukan. Eh iya! Saudara saya… eh.. kembar saya, kalau dia kesitu, minta kunci, kasih aja ya.”

“Oke Mba, nanti saya kasih kuncinya, kapan kira-kira datangnya?”

“Sebentar lagi!”

Suara kendaraan makin terdengar berisik. Mba Ning hampir berteriak-teriak untuk berbicara di seberang telpon.

“Pak? Pak!”

“Oh ya ya, Mba? Kenapa?”

“Kalau.. Kalau dia datang sendiri, kasih kuncinya!…. Kalau.. kalau datangnya… berdua dengan orang lain… jangan kasih kuncinya! Bilang saja, saya gak memperbolehkan ada orang selain kembaran saya itu untuk ikut di dalam rumah!”

“Siap Mba! Oke!”

Tiba-tiba telpon terputus. Sepertinya terdengar suara benda jatuh sebelum terputus tadi. Pak Karman agak merasa aneh. Biasanya suara Mba Ning datar-datar saja. Kok, ini seperti terburu-buru oleh sesuatu dan seperti ketakutan?

“Siang Pak.” Suara wanita mirip suara Mba Ning mengejutkan Pak Karman. Tiba-tiba didepannya sudah berdiri seorang wanita yang rupa dan perawakannya mirip dengan Mba Ning. “Saya saudaranya Mba Ning. Apa boleh saya meminta kunci rumah ini? Saya mau menginap di sini semalam.” Wanita itu tersenyum.

Sebenarnya, Pak Karman tadi sempat membersihkan dalam rumah, tapi dia sempat mengunci kembali rumah itu sebelum menyapu halaman. Kunci itu ada di saku celananya. Aneh sekali wanita ini, gak ada basa-basinya dulu, langsung minta kunci saja. Entah dari mana wanita ini datang, rasanya dia tidak melihat kendaraan apapun diluar pagar.

“Pak, bisa saya minta kunci rumah ini?” Wanita itu tersenyum. Entah kenapa rasanya aneh saja melihat wanita ini.

“Mba ini kembarannya Mba Ning?” Pak Karman merogoh saku celananya. Rasanya kunci rumah dia taruh di saku celana tadi.

“Kembaran? Yah, bisa dibilang begitu. Kalau kunci di tangan saya, bapak bisa pulang ya.”

Aneh sekali. Kok jawabannya seperti itu. Ah kuncinya tidak ada di saku celana! Di mana ya? Apa mungkin di jaket? Pak Karman mencari jaket kulit bututnya, oh itu dia! Ada di handle pintu depan. Tadi jaketnya dia gantungkan disitu. “Sebentar ya Mba.”

Wanita itu mengikuti Pak Karman. Pak Karman mengambil jaketnya dan mencari kunci rumah dari semua kantong yang ada pada jaketnya. Kok tidak ada ya?

“Bagaimana Pak? Kuncinya ada?” Wanita itu ada dibelakang Pak Karman. Tapi Pak Karman merasa aneh, kenapa suara wanita itu menjadi seperti dari dua orang? Pak Karman menoleh kebelakang. Di belakangnya, berdiri wanita yang mirip Mba Ning, bukan cuma 1, tapi ada 3, dan mereka semua bertanya hal yang sama dan berulang-ulang, “Kuncinya ada Pak?”

Pak Karman ternganga. Badannya kaku. Dia sangat kaget dan shock. Lalu dia pingsan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: