[4] Uji Nyali

Arbi menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Rasanya dia sudah pipis di celana dua kali. Posisinya jongkok. Dia menangis.

“Ampun… Ampun… ” teriaknya lirih. Suaranya terasa tersekat ditenggorokan. Dia tak mampu berdiri, apalagi berlari dari situ. Hanya teriakan lirih minta ampun sejak tadi dia utarakan.

Lalu hawa dingin menerpa tubuhnya yang ketakutan hebat itu. Bulu kuduknya berdiri. Tengkuknya terasa dingin, seolah ada yang memegang lehernya dari belakang. Arbi makin ketakutan, suaranya menjadi makin lirih. “Ampun… Ampun…”

Entah berapa lama hawa dingin itu disekitar Arbi. Dia merasa seperti waktu berjalan sangat lambat. Keringat sudah sangat deras tak henti mengalir diseluruh tubuhnya. Air matanya makin kering. Jantungnya berdetak begitu kencang. Lalu tiba-tiba…


Plak!

Kepala Arbi seperti ditampar dari belakang. Arbi tetap tidak berani membuka kedua matanya, tangannya makin kencang menutup matanya.

Plak! Plak!

Kali ini, dia merasa kepalanya berdenging. Tamparan kedua ini lebih keras dari yang pertama.

“Bi… Arbi… Bi… Bangun, woy! Bi!”

Suara yang tiba-tiba terdengar dari lirih dan menjadi begitu keras ditelinga Arbi. Arbi perlahan melepaskan kedua tangannya dan membuka matanya, dia kenal suara itu, itu suara mas Karna.

“Bi! Bangun! Kenapa sih bengong begitu? Nih, bawa semua kameranya, kita mau siap-siap berangkat!” perintah mas Karna, suaranya terdengar kesal.

Arbi melihat tiga kamera mahal ditangannya, lalu dia melihat sekelilingnya. Hari masih terang, mungkin masih sore. Arbi bingung, bukannya tadi tengah malam dan dia ada di sebuah makam keramat, terjongkok, ketakutan, menangis, dikejar sesuatu yang sangat besar, dengan suara raungan anjing liar, dan dia pipis di celana? Kenapa ini masih terang dan di depan rumah mas Karna?

Arbi ternganga tak percaya. Kamera mahal ditangannya hampir terjatuh. Tapi dia berhasil untuk tidak menjatuhkan satu pun. Dia melihat bajunya dan celananya, kok berbeda dari yang dia pakai tadi, dan dia tidak pipis di celana.

Tin.. Tin…!!!!!

Klakson motor mas Karna mengagetkannya. Suara itu dari arah belakang.

“Mau ikut gak sih? Kameranya taruh di tas dong! Dari tadi bengong terus!” Mas Karna sudah terlihat marah.

Arbi mengambil tasnya dari bawah dekat kakinya, memasukkan kamera-kamera ditangannya sambil merenung, kenapa kok rasanya aneh sekali. Bukannya tadi dia…

Tin…..!!! Suara klakson mas Karna mengejutkannya, dengan terburu-buru, dia memasukkan semua kamera, menutup tasnya dan membawanya di pundak. Dia segera naik di jok belakang motor mas Karna. Mereka melaju ke jalan raya.


Mas Karna, turun dari motornya dengan Arbi yang masih terbengong heran menatap mobil Pak Setyo.

“Heh, dari tadi gue liat elo bengong mulu! Arbi! Arbi!” Mas Karna memegang bahu kanan Arbi. Arbi terkejut, tapi wajahnya masih terlihat kosong, sambil terus menatap mobil Pak Setyo.

Mas Karna mendengus. Dia menuju ke Pak Setyo yang baru saja keluar dari mobilnya.

“Sore Pak!” sapa mas Karna.

“Eh, udah muncul ini ketuanya.. Loh yang lain belum ada? Hanya adekmu aja? Rina dan Sandi kemana?” sahut Pak Setyo ramah.

” Sebentar lagi mungkin, Pak. Maaf Pak, saya boleh minta kuncinya? Saya mau taruh barang-barang dulu di mobil, sambil nunggu Rina dan Sandi.” Mas Karna melirik sekilas ke Arbi yang masih terpaku menatap ke mobil Pak Setyo.

“Oke! Ini! Jangan sampai lecet ya. Inget ada biaya tambahan, kalau lewat sehari.”


Arbi, Mas Karna, Rina dan Sandi menatap gerbang depan makam keramat di depan mereka. Juru kunci makam sudah mewanti-wanti agar jangan bengong dan jangan berkata dan berbuat tidak baik didalamnya. Konon makam keramat ini adalah makam para petinggi sebuah kerajaan besar, dibawah Majapahit, yang meninggal terkena wabah misterius. Sering telihat makhluk halus menyerupai tentara dan pendekar jaman dulu disini. Tapi yang paling sering terlihat adalah makhluk besar hitam yang sangat tinggi dan suka meraung, seperti orang utan tapi lima kali besar.

“Mas.. Sebaiknya kita cancel aja mas, jangan masuk!” kata Arbi setengah berteriak ke Mas Karna. Mas Karna mendelik ke arahnya, diikuti suara tertawa Rina dan Sandi.

“Arbi.. Arbi.. udah direncanain dari jauh-jauh hari kesini, malah takut begitu…” ujar Sandi. “Ayo masuk, mumpung belum terlalu malam!”

Arbi melangkah dengan ragu. Hawa malam itu tiba-tiba terasa sangat menusuk. Mas Karna, Rina dan Sandi melangkah dengan pasti masuk ke dalam makam itu. Mereka terkesima dengan nisan makam yang masih tegak berdiri dan makam yang terlihat terawat. Sementara Arbi masih mematung di pintu masuk makam. Tangannya yang memegang senter gemetar terus dari tadi. Perasaannya sudah sangat tidak enak makin mendekati area makam tadi. Dia yakin, dia akan mengalami hal yang tidak mengenakkan nanti. Di masih ingat, nanti dia jongkok, ketakutan, menangis, dikejar sesuatu yang sangat besar, dengan suara raungan anjing liar didekatnya.

Sinar senter yang menyorot ke wajahnya membuatnya terkaget dan silau. Dari kejauhan terdengar tawa Rina dan Sandi, Mas Karna berteriak memanggilnya. Arbi masih ragu-ragu. Ketika dia melangkah, ketakutan mendekap tubuhnya makin erat. Dia ingat, bagaimana Mas Karna akan tersandung dan langsung pingsan, Rina tiba-tiba terlempar ke udara dan jatuh ke tanah, Sandi yang berlari kencang ke arah pintu masuk makam sambil berteriak-teriak kesakitan dan dirinya yang terjongkok didekat pintu makam dan mendengar raungan anjing besar ditelinganya.

Published by Lisda Ikhwantini

Digital Media Specialist and commenter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: