[2] Si Gundul

“Gundul… gundul…”

“Botak… si cewek botak..”

Banyak orang menertawai Ami, dan mengatainya gundul atau botak. Ami memang tidak pernah menumbuhkan rambutnya. Dia tidak mau dan tidak suka. Sekarang umur Ami sudah 25 tahun dan sedang melamar kerja ke banyak perusahaan. Banyak yang terkejut melihat kalau dia memang benar-benar tidak mempunyai rambut.

Ejekan dan hinaan dari teman atau tetangganya tidak membuatnya sedih, mungkin karena sudah biasa. Padahal dia tidak mempunyai penyakit apapun. Dia hanya ingin tidak punya rambut, jadi kepalanya dibuat selalu botak.

Ami ingat, dulu saat SD kelas 1 dan 2, rambutnya panjang dan lebat. Suka sekali dikepang dan dikucir dua. Terutama oleh ibu Nana, pengasuhnya. Ibu Nana sudah tua, seingat Ami, ibu Nana sudah bungkuk dan kalau berjalan pakai tongkat. Tapi tangannya masih cukup cekatan untuk mengasuh Ami, sekaligus memasak, merawat tanaman dan membantu orang tua Ami mengurus rumah. Ibu Nana pernah bercerita, sebenarnya dia terkena penyakit langka, yang membuat tulang punggungnya bengkok dan membuatnya kesulitan berdiri tegak sejak usia remaja. Ibu Nana sangat sayang kepada Ami. Ibu Nana tidak menikah. Sampai Ami kelas 2, ibu Nana masih ada. Tapi Ami lupa kenapa ibu Nana tiba-tiba tidak ada lagi di rumah setelah Ami naik ke kelas 3, Ami lupa sama sekali. Setiap Ami ingin mengingatnya, dia tidak bisa, seolah ibu Nana lenyap begitu saja. Ami pernah bertanya ke orang tuanya, mereka bilang, ibu Nana pulang kampung dan tidak bisa balik kerja di rumah orang tua Ami.

Kali ini, lamaran pekerjaan ke-sepuluh Ami ditolak lagi. Ami merasa tidak punya kepastian. Tapi dia tetap berusaha mencari pekerjaan. Akhir-akhir ini, dia sering bermimpi ibu Nana. Didalam mimpinya, dia berambut panjang, ibu Nana menyisir dan mengepang rambutnya.


Rosi mendesah berat. Matanya mengikuti punggung Ami. Hari ini Ami mengaku kepalanya pusing sekali dan sebagai ibunya, Rosi sangat khawatir. Dia pikir sakit tipes Ami kambuh lagi, tapi untunglah hal itu hanya pusing biasa, karena Ami sulit tidur.

Rosi menyandarkan kepalanya ke sofa dan memejamkan matanya. Dia ingat dulu Ami kecil juga sering sakit kepala, sejak… ya sejak saat yang mengerikan itu…

Saat itu Ami sering tidak bisa tidur malam juga karena mimpi buruk. Tapi ibu Nana selalu berusaha menenangkannya. Setiap Rosi mengecek keadaan Ami dikamarnya, ibu Nana selalu sudah ada disampingnya. Ibu Nana adalah seorang pengasuh yang baik dan masakannya enak juga. Suatu hari, saat ibu Nana pulang dari pasar, ada mobil yang menabraknya, dan nyawa ibu Nana tidak bisa diselamatkan walau sempat dirawat beberapa hari di rumah sakit. Kata-kata terakhirnya, dia ingin menyisir dan mengepang rambut Ami untuk terakhir kalinya. Tapi sebelum keinginannya terwujud, dia meninggal.

Waktu itu, Ami menangis keras-keras, sampai sebulan setelahnya dia sulit tidur dan terus teringat ibu Nana. Hal ini membuat Rosi khawatir. Tapi untunglah di bulan kedua, Ami sudah mulai bisa menerima kalau ibu Nana sudah wafat. Rosi ingat, kala itu sehabis ujian kelas 2 SD, Ami berceloteh, dia sering diajak bermain oleh ibu Nana malam-malam dan ibu Nana mengepang rambutnya. Rosi tidak terlalu menanggapi, mungkin Ami hanya bermimpi.

Sampai suatu ketika Rosi mendengar laporan ibu Mila, pengasuh baru Ami. Dia bilang, Ami suka ngobrol sendiri di kamar tengah malam, terkadang, kalau di rumah, siang atau sore, Ami juga suka berbicara sendiri. Kalau ibu Mila bertanya, Ami bilang dia sedang bicara dengan ibu Nana. Rosi masih tidak terlalu memperdulikan. Sampai suatu ketika, Rosi mendengar dan melihat sendiri. Malam itu mati lampu, Rosi mau ke kamar Ami, dengan bantuan senter, dia ingin membawa Ami ke kamarnya saja. Betapa kagetnya dia, saat dia lihat di kamar, Ami belum tidur dan dia bilang rambutnya sedang dikepang ibu Nana. Rosi melihat jelas disudut ruangan, bayangan wanita yang bungkuk seperti figur ibu Nana, berdiri mematung. Dengan sigap Rosi menggendong Ami dan keluar kamar.

Rosi dan suaminya berupaya untuk segera pindah rumah sejak saat itu. Rosi juga membawa Ami ke psikiater dan ke ustad. Ami dihipnotis agar tidak ingat ibu Nana lagi dan ustad membantu merukyah Ami. Efeknya, Ami tidak pernah mau punya rambut. Dia juga tidak bisa mengingat ibu Nana lagi, walau dia berusaha mengingatnya.

Rosi membuka matanya, kembali mendesah. Dia harus membawa Ami ke psikiater dan ustad lagi sekarang.


Published by Lisda Ikhwantini

Digital Media Specialist and commenter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: