Gak bisa

Ide cerita ini terlewat dipikiran saya. Karena saya penyuka mazhab horor ga keliatan, jadi saya tulis saja di sini.

Gak Bisa

Calbi berusaha membuka pintu depan rumahnya. Tangan kecilnya gemeteran hebat. Dia sudah batuk-batuk. Air mata sudah kering. Mulutnya tak henti memanggil bapaknya.

Asap sudah mulai mengebul ke udara, sampai pintu depan. Calbi bingung. Kata bapak, tadi bapak hanya pergi sebentar. Tapi kok lama belum pulang, Calbi liat sudah mau malam. Tadi Calbi melihat ada percikan api di kamar, terus menjalar ke kasur. Lalu tiba-tiba api menyala begitu besar, asapnya hitam.

Calbi harus keluar rumah. Kata ibu, Calbi anak hebat. Pasti bisa. Tapi kayaknya pintu susah dibuka. Calbi sudah capek teriak panggil bapak dan teriak tolong, tolong, Calbi di dalam! Tapi tidak ada yang dengar.

Mata Calbi semakin berair. Batuk Calbi semakin keras dan membuat sakit dada. Tapi pintu depan belum terbuka. Api sudah menuju pintu depan, asapnya menelan sekujur badan Calbi.

Sudah Ketemu

Raka itu merenung di depan mayat temannya. Ruang mayat ini terasa semakin dingin. Itu temannya, sahabat dan juga yang sudah dia anggap sebagai abang, terbujur kaku dengan luka di kepala dan badan yang parah. Dia tidak bisa menangis, hanya terpana. Bang, kenapa bisa begini. Bang, bangunlah, Bang! Ayo kita main futsal besok! Bang, gimana nanti dengan nasib anakmu yang masih kecil itu?

Sepertinya sudah lama dia berdiri menatap mayat itu. Sampai petugas mortuari menegurnya, sudah ya Pak, mau kami otopsi, bapak sudah lama berdiri di sini.

Raka mengangguk. Dia keluar ruangan kamar mayat itu dengan seribu tanya dan tanpa jawaban. Sahabat kentalnya sudah pergi dan dia tidak bisa menyusul. Lalu dunia mulai terasa sepi. Dia terduduk di ruang tunggu. Menatap langit-langit dan berpikir, kalau saja dia tidak menyuruh abangnya tadi menyusulnya, mungkin abangnya itu masih ada. Tidak perlu bertemu takdir kejam terseret truk.

Raka lama menatap langit-langit. Akhirnya air matanya ada yang turun. Cepat sekali sahabatnya pergi. Saat itu, sebuah angin bersemilir  ke arah wajahnya. Dia memejam mata, lalu terdengar suara lirih, “Dek, Calbi. “

Raka tersentak dan membelalakkan mata. Calbi, anak abang, gimana kondisinya di rumah? Sendiriankah dia? Raka bergegas keluar dari rumah sakit dan menuju ke parkiran motor.

Terlambat?

Warga sudah berkumpul di jarak aman, dan ada juga yang masih mencoba membawa barang berharga dari rumah mereka ke tempat aman. Api sudah hampir padam. Petugas pemadam kebakaran sigap menyemprotkan ke titik api.

Raka terpana. Dia bertanta pada warga sekitar, ada beberapa rumah terbakar. Rumah siapa? Bukankah didepannya itu deretan rumah abangnya? Lalu, Calbi gimana?

Surga

Bangun, Calbi, ini ibu.

Calbi membuka mata, menatap sekeliling. Kepalanya masih pusing. Dia terbaring dipangkuan ibunya. Ibu membelai rambut Calbi dengan pelan.

Nah, Calbi anak hebat, sudah bangun.

Ibu memeluk Calbi erat. Calbi senang, bertemu ibu lagi. Kayaknya lama banget Calbi tidak melihat ibu.

Calbi hebat. Ingat. Calbi hebat. Ibu mengulang kalimat itu berkali-kali sambil memeluk Calbi. Calbi senang.

Tapi kok pelukan ibu makin kencang. Calbi sulit bernapas nih. Terlalu kencang, Bu. Ibu, lepas. Enggak bisa napas. Bu..

Calbi membuka mata. Orang yang memeluknya bukan ibu. Tapi om Raka. Dia menangis melihat Calbi.

Dia sadar! Suster, dia sudah sadar! Om Raka teriak ke arah segerombolan orang yang terlihat berpakaian dokter. Dalam sekejap, orang-orang itu membaringkan Calbi dan mulai mengelilingi Calbi.

==============================

Ini baru ending 1. Saya kepikiran buat 5 ending untuk Calbi dan Raka.

Cerita lain bisa dibaca di kategori cerita pendek ini.

Leave a comment