Aku bersila menghadap cahaya matahari yang mulai terlihat. Ku memicingkan mata, karena silaunya. Kuperiksa seluruh tanah datar tempat aku bersila ini. Hamparan rumput yang sudah mengering, tanahnya kelihatan, kalau hujan pasti jadi becek atau berlumpur.
Tapi aku menyukai tanah datar ini, tempatnya luas, sesekali terlihat orang sedang berjalan dari arah barat dengan kudanya atau keledainya, membawa muatan atau sayuran. Mereka ke arah pasar, dekat ibu kota, mungkin mereka ingin menikmati jalan yang tidak terlalu sibuk melewati tanah datar ini. Kadang aku melihat juga beberapa punggawa kerajaan atau bangsawan dengan tandu mewahnya.
Ada juga orang seperti aku, yang menyepi, bermeditasi, melupakan duniawi sekejap. Di bawah pohon yang sama ini pun, ada dua pertapa tua yang bermeditasi. Nampaknya mereka memang tidak mau diganggu, tidak pernah bicara dan jarang bergerak, kecuali saat makan atau minum, tidur, atau ketika ingin buang air. Mirip sepertiku. Hanya saja wajah mereka seperti memiliki ilmu yang lebih tinggi dariku.
Aku kembali menatap arah matahari. Sudah sehari aku pergi dari kampungku dan rumahku. Meninggalkan semuanya, hanya membawa sedikit koin, makanan, satu set kain tebal, dan kalung manik punya Sri. Aku sudah pamit pada Rama beberapa bulan lalu dan dia dengan acuh tak acuh memberiku satu Kupang, jumlah yang sangat jauh lebih kecil dari Nyoman saat dia hendak berhenti juga.
Aku menerimanya. Aku selalu berusaha menerima apapun. Sampai pada titik aku merasa ingin lebih hidup dari sebelumnya. Meninggalkan kampung, meninggalkan pekerjaan, meninggalkan adikku Sri, meninggalkan orang tua tiriku. Kupang dan koin Kepeng sudah kutitipkan ke Sri, yang hanya bertanya dengan satu kata, Kenapa?
Angin semilir menyentuh pundakku. Baru sehari. Tapi aku berusaha melupakan segalanya. Menganggap aku yang kemarin sudah mati, berganti kulit menjadi aku yang baru. Melupakan juga harus mempunyai energi besar, yang terkadang, energi itu hilang begitu saja, sebelum aku benar-benar jadi lupa.
Leave a comment